Jejaring komunitas TBM di Pujon, Malang

Langusng aja, teman-teman. Pasti udah gak sabar baca report Insan Baca di Malang kemarin.

Insan Baca sudah  mengagendakan pertemuan dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Malang pada hari Sabtu-Minggu (24-25 Maret 2012). Teman-teman yang siap berangkat pada hari Sabtu adalah Prita, Zafan dan saya sendiri, Taufik.

Kita berangkat menggunakan kereta Penataran. Menurut petugas PT. KAI, tiket keberangkatan Malang-Surabaya tidak bisa dibeli H-7 dengan asumsi jarak dekat. So, kita putuskan Mas Zafan membeli tiket kereta pada pagi hari. Singkat cerita, setelah bersusah payah Mas Zafan berhasil mendapatkan tiket Penataran menuju Malang dengan tanpa nomor tempat duduk alias berdiri.

Sesuai rencana, kita ngumpul di Stasiun Gubeng Lama jam 10 pagi. Mba Prita sukses menjadi yang pertama hadir. Sedangkan saya dan Mas Zafan sukses terlambat 30 menit dari rencana. Yang lebih parah, kereta yang dijadwalkan pukul 10.50 (kalo tidak salah) sukses telat sampai pukul 11.15-an. Menikmati perjalanan tanpa tempat duduk membuat kita berpindah-pindah ke tempat duduk yang kosong, yang tidak ada penghuninya. Alhasil, perjalanan menjadi tegang takut kita diusir oleh pemilik nomor kursi. Tapi takdir berkata lain, kita bisa duduk nyaman sampai tujuan meski sempat beberapa kali diusir.

Mungkin karena hari libur, kereta lebih sering berhenti akibat crash. Maklum,penguna  kereta ekonomi menjadi pengguna paling sabar akibat keretanya selalu didahului kereta lain. Tak apa, meski terlamb at kita memasuki Stasiun Kota Malang Lama sekitar pukul 14.45-an. Terlambat dari jadwal pukul 14.00.

Oke, akhirnya Mba Thantien dengan baik hatinya menjemput kami di stasiun. Perjalanan menggunakan mobil dilanjutkan menuju TBM Bale Gunung Kawitan, di Pujon. Tanpa tahu arah kita menumpang mobil Mba Thantien dengan nyaman. Alhamdulillah, sampai ditempat Cak Ali, pemilik TBM tersebut. Kita disambut hangat, meski cuaca sudah terasa dingin. Sambil menunggu peserta lain, kita bersih-bersih dan solat dulu.

Acara dimulai pukul 17.15, mundur dari jadwal dengan peserta yang terbatas.  Kita bertiga, Mba Thantien dan suaminya, Mas Dian, serta Kak Shinta. Perkenalan diselingi sesi makan bakso, membuat suasana makin hangat ditengah dinginnya Pujon yang terasa menusuk tulang. Seusai perkenalan, acara dilanjutkan dengan materi dari Mba Thantien mengisi materi mengenai Kerelawanan. Kemudian pemateri  kedua dari Mba Prita mengenai pengelolaan TBM.

Saya yang baru pertama kali berkunjung ke TBM milik Kak Ali, kesan pertama adalah eksentrik. Terlihat dari interior yang sangat mencolok. Ternyata Cak Ali menyimpan cerita yang begitu panjang. Perjuangannya mendirikan TBM, dan sering menjadi bahan olok-olok tetangganya, bahkan hingga sekarang tetap tidak mematahkan beliau mendirikan TBM ditengah-tengah pedesaan.

Kisah lain berasal dari Kak Shinta. Usahanya lebih keras lagi. Sebagai perempuan dia berhasil membuka TBM dengan modal sendiri, meksi sering menjadi ejekan tetangga-tetangganya. Tapi usaha Kak Shinta belum usai sebab saat ini, perempuan yang juga mengajar di TK desanya masih jauh dari kata berhasil dalam upaya memberdayakan masyarakat sekitar. Shinta masih sering mendapatkan prasangka buruk dari orang-orang disekitarnya. Ada sisi lain dari Kak Shinta, bahwa dia adalah salah satu korban trafficking. Sungguh, wanita tangguh.

Kemudian acara dilanjutkan dnegan diskusi. Ada hal menarik yang bisa diambil di Pujon. Kondisi desa, dengan mayoritas masyarakat miskin yang bekerja di sektor pertanian membuat mereka lebih banyak mementingkan hal-hal yang bisa menguntungkan bagi mereka dan bisa mendatangkan uang. Hal ini menjadikan kegiatan yang bersifat sosial yang dilakukan oleh Cak Ali dan Shinta menjadi hal yang aneh dan diluar kewajaran.

Kesulitan yang dihadapi adalah permasalahan sumber daya manusia. Mereka kekurangan tenaga yang akan membantu mengurusi TBM. Sebab kebanyakan remaja di desa tersebut umumnya mendapatkan pendidikan sebatas sekolah manegah. Umumnya, setelah sekolah mereka pergi merantau untuk mencari pekerjaan demi mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka.

Kisah Cak Ali lain lagi. Dia sering mendapat stigma negatif. Pendekatan yang dgunakan Cak Ali memang lebih agamis. Sebab mengajarkan pengetahuan kepada anak-anak bukan hanya sebatas melatih kebiasaan membaca saja, tapi juga menggunakan pendekatan agama sehingga mereka memiliki pondasi agama yang kuat juga.

Tentu banyak pengalaman dan insipirasi yang didapat. Kita bisa banyak belajar, kedua orang tersebut hidup ditengah kesulitan ekonomi, masih peduli pada masyarakat sekitar. Mereka sudah seing mendapatkan cacian, hinaan, prasangka buruk dari lingkungan mereka, tapi tetap berusaha untuk berbuat sesuatu agar bisa merubah lingkungan sekitar mereka melalui budaya membaca.

TBM punya Cak Ali

Temu Jaringan & Workshop Singkat - TBM Bale Gunung Kawitan, pujon Malang

Setelah selesai mengobrol kesana kemari, Saya, Mas Zafan dan Mba Prita ditawari untuk  menginap di Pondok Aksara dengan asumsi kegiatan yang direncanakan pada Hari Minggu bisa kita persiapkan sebelumnya. Akhirnya kita sampai di Perpustakaan Anak Aksara pada pukul 11.30 malam.

Terima kasih buat tumpangannya di TBM punya Cak Ali.

Sampai jumpa lagi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s