Andai Saya Anggota DPD RI : Tanggung Jawab Lobi dan Amanah Konstituen

Saya mahasiswa jurusan ilmu politik tentu memiliki kesempatan besar untuk terjun di politik praktis. Sebagai anggota DPD nanti saya mewakili daerah asal saya, Jawa Tengah, dengan pendukung terbanyak tentu berasal dari Kabupaten Banyumas, tempat saya dilahirkan.

Sebagai anggota DPD memang saya tidak bisa membuat dan mengesahkan Undang-undang yang ada. Kewenangan saya memang terbatas. Tapi saya harus berusaha keras. Lobi kepada anggota DPR yang lain adalah kunci utama agar saya bisa menyuarakan undang-undang yang memang dibutuhkan oleh konstituen saya.

DPD lebih mencermikan representasi daripada anggota DPR yang berasal dari partai politik. Tapi kenapa hak dan jumlah anggota kita (DPD) presentasinya jauh lebih kecil daripada anggota DPR lain. Kita harus suarakan itu. Lobi utama tentunya dengan sesama anggota DPD yang lain. Kita satukan tekad untuk memperjuangkan legalitas keberadaan kita agar punya hak yang sama dengan anggota DPR untuk mengesahkan Undang-undang.

Memang masa tugas saya terbatas lima tahun. Tapi keberadaan lembaga DPD harus ada harus memiliki kekuatan untuk bisa menyuarkan konstituen mereka. Memang tidak bisa dipungkiri, kami lemah secara kelembagaan, daripada mereka yang berasal dari parpol. Tapi kami tetap harus berusaha sekuat mungkin untuk menyuarakan kegundahan, kegelisahan, aspirasi dari konstituen kita. Pertanggungjawaban kita sebagai anggota DPD bukan kepada parpol, golongan atau kelompok kepentingan tapi langsung dengan konstituen kita.

Perjuangan kita meminta dana aspirasi bukanlah hal mutlak. Sebagai wakil rakyat, kita harus siap berkorban bukan malah sibuk berceloteh meminta dana bantuan. Kita punya cukup waktu reses selama satu bulan untuk terjun langsung kepada konstituen kita. Bukan hanya keluarga dan teman terdekat, tapi konstituen di daerah terpencil sekalipun.

Dokumentasi itu penting tapi tidak lantas mengundang atribut media untuk meliput kegiatan kita di daerah. Konstituen kita tidak membutuhkan sorotan kamera. Dorongan, semangat, dan rasa keterwakilanlah yang mereka butuhkan. Pentingkah jika kita disambut dengan arak-arakan, upacara hingga pesta yang menghabiskan dana jutaan. Rasanya lebih menyenangkan ketika konstituen kita bisa tersenyum baik ketika ada maupun tidak adanya kita. Bukan malah mencaci, memaki, hingga membenci wakil rakyat mereka.

Lima tahun adalah waktu yang singkat. Tapi apalah artinya ketika konstituen saya sudah menyempatkan lima menit waktu mereka untuk mencoblos saya. Saya rasa amanah itu jauh lebih besar dan lebih dari cukup untuk sedikit menyuarakan apirasi mereka.

Tulisan ini dalam rangka mengikuti lomba Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI.

2 thoughts on “Andai Saya Anggota DPD RI : Tanggung Jawab Lobi dan Amanah Konstituen

  1. Ewa Kartins says:

    wah, orang FISIP nih. Semoga bisa jadi anggota DPD beneran dan bisa merealisasikan apa yang ditulis di atas. Sukses dan salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s