ANALISA GERAKAN MAHASISWA FAM UNAIR

Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai fenomena gerakan sosial yang terjadi di lingkungan kampus Universitas Airlangga.

Pada akhir semester genap 2011 lalu muncul isu kenaikan SOP dan SP3 bagi mahasiswa baru angkatan 2011. Hal ini memicu terjadinya penolakan oleh mahasiswa angkatan atas. Kemudian mereka yang menolak ini diakomodasi oleh mahasiswa yang tergabung dalam Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga (FAM Unair). Beberapa kali sejak adanya berita kenaikan SP3 mahasiswa baru yang dimuat di salah satu surat kabar memicu terjadinya aksi unjuk rasa disekitar kampus.

Seperti dilansir dari situs beritajatim.com saya mencatat FAM Unair sempat beberapa kali menggelar aksi demo di sekitar kampus Unair. Aksi dimulai tanggal 30 April 2011 di depan Fakultas Kedokteran Unair. Bertajuk “Gerakan Tolak Komersialisasi Pendidikan” mereka menggelar Mural Massal Kain kafan sepanjang 20 Meter dan Simbolisasi Pemasangan Bendera Setengah Tiang.

Kemudian pada tanggal 11 Mei 2011, FAM Unair kembali mengkritisi kebijakan kenaikan SOP dan SP3 bagi maba 2011. Selanjutnya pada 8 Juni 2011, mereka menggelar aksi massa yang diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa. Mereka menggelar aksi simbolik pengusiran setan. Setan tersebut dianggap sebagai adanya pihak-pihak di Rektorat yang membuat pejabat Unair tetap menaikkan biaya pendidikan di Unair. Aksi simbolik di wujudkan dalam bentuk pembakaran menyan oleh salah satu peserta dari FAM Unair yang berperan sebagai seorang dukun dan kemudian diiringi juga tarian kecak oleh massa aksi.

Kaus penolakan biaya pendidikan di Unair oleh FAM Unair merupakan salah satu bentuk gerakan massa yang dilakukan oleh pihak internal institusi tersebut. FAM  Unair pada awalnya terbentuk sebagai alat perjuangan mahasiswa Unair untuk memperjuangkan pembatalan  kebijakan bagii mahasiswa yang DO (Drop-Out) di lingkungan kampus Unair. Selain itu mereka juga berupaya untuk merebut kontrol demokratisasi di dalam kampus.

FAM Unair yang lahir tahun 2009, dan beranggotakan mahasiswa dari berbagai fakultas di Unair. Pada akhirnya mereka memperluas bidang advokasi, bukan hanya bagi mahasiswa yang tekena DO saja, tapi juga mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Unair. Salah satunya adalah mengkritisi masalah kenaikan biaya pendidkan pada untuk maba 2011 kemarin.

Pembahasan

FAM Unair melihat kenaikan biaya SOP dan SP3 Unair sebagai bentuk komersialisasi pendidikan di Unair. Aksi pertama yang mereka lakukan di FK Unair sebagai bentuk protes atas mahalnya biaya pendidikan kedokteran yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Mereka melihat pada akhirnya hanya kalangan atas saja yang bisa menempuh pendidikan kedokteran. Kemudian penarikan biaya SP3 bagi mahasiswa dari jalur SNMPTN yang tidak pernah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya dianggap akan menutup akses pendidikan bagi mahasiswa dari kalangan menengah bawah.

Pada akhirnya setelah mendapat banyak tekanan dari publik maupun dari mahasiswa Unair sendiri, pejabat Unair mengeluarkan kebijakan dengan menetapkan sistem proporsional bagi mahasiswa baru. Bagi maba yang berhasil lolos SNMPTN mereka diharuskan menyerahkan bukti slip gaji orang tua sebagai tolak ukur besaran biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa baru.

Mekanisme ini dianggap bertentangan dengan adanya klaim dari pihak Unair yang mengatakan bahwa mereka menggratiskan biaya pendidkan bagi mahaiswa tidak mampu. Selain itu, pihak FAM Unair juga beragumen jika sistem proporsional yang dilakukan akan memunculkan polemik baru bagi maba yang orang tuanya bekerja di sektor informal. Sebab umunya mereka mendapatkan pendapatan yang cenderung fluktuatif dan tidak tetap perbulannya.

Selain itu beasiswa Bidik Misi yang diinformasikan adalah beasiswa dari Unair bagi mahasiswa miskin, sebenarnya merupakan beasiswa dari pemerintah, bersumber dari dana APBN. FAM Unair juga menuntut transparasi keuangan yang dilakukan oleh Rektorat Unair. Pihak Rektorat masih tertutup maslaah keuangan yang dimiliki Unair. Hal ini menyebabkan mahasiswa juga tidak tahu berapa besaran dana pemasukan dan pengeluaran oleh Unair.

Secara umum antara bulan April hingga Juni, FAM Unair rmemiliki tuntutan, antara lain :

  1. Menolak kenaikan Biaya SP3 baik itu skema lama maupun baru yang ditawarkan oleh Birokrasi Unair, karena semuanya sarat dengan kebohongan.
  2. Menuntut transparansi keuangan Unair agar segala permasalahan bisa terbuka dengan jelas, baik itu yang menyangkut kasus SP3 maupun Pungutan IKOMA.
  3. Menyerukan kepada mahasiswa, dosen, pekerja Unair bergerak bersama menolak segala bentuk Liberalisasi dan komersialisasi pendidikan di kampus Unair untuk mewujudkan kampus Unair sebagai kampus rakyat.

Kemudian, mereka juga menambah ada beberapa tujuan dalam tuntuan mereka, antara lain :

  1. Menuntut Rektor Unair untuk segera membatalkan kebijakan kenaikan Biaya Pendidikan untuk Mahasiswa Baru 2011, karena kebijakan itu jelas hanya menyengsarakan Rakyat.
  2. Menuntut Rektor Unair segera membuka Transparansi Keuangan Unair untuk membuktikan kebenaran dari klaim defisit keuangan yang sedang di alami Universitas Airlangga.
  3. Menyerukan kepada segenap dosen, pekerja dan mahasiswa Unair untuk bergerak membatalkan kenaikan biaya kuliah itu dan mengembalikan Unair menjadi kampus rakyat lagi.
  4. Hancurkan Neoliberalisme (Penjajahan Gaya Baru) dalam Dunia Pendidikan karena terbukti hanya memicu kenaikan biaya pendidikan di kampus yang telah di privatisasi.

Dari tuntutan yang terhadap mahasiswa yang terkena DO mereka berhasil meng-goalkan tujuan mereka. Akhinrnya memang pihak rektorat menunda hal ini.Namun masalah kenaikan biaya pendidikan ini, pihak Rektorat yang bergaumen bahwa pembatasan mahasiswa yang diterima lewat jalur mandiri menyebabkan Unair harus mendapatkan suntikan dana melalui pembebanan SP3 bagi mahasiswa baru.

Rudorf Haberle mendefinisikan gerakan sosial sebagai gerakan bersama, yaitu suatu bentuk kekacauan di antara manusia, kegelisahan, serta usaha bersama untuk mencapai tujuan yang divisualisasikan, khususnya suatu usaha untuk merubah dalam kelembagaan sosial tertentu.

Dari definisi ini, maka kita bisa melihat bahwa gerakan sosial merupakan gerakan yang dilakukan secara kolektif dan besama-sama. Apabila di masyarakat terjadi fenomena yang membuat keresahan, atau memicu adanya efek negatif maka akan terjadi revolusi berupa gerakan yang berusaha untuk menuntut penolakan.

Gerakan ini pula yang terjadi di lingkungan kampus Universitas Airlangga. Mahasiswa-mahasiswa menganggap bahwa Unair sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seharusnya berkomitmen untuk menjaga agar semua anak bangsa dari berbagai macam kelas sosial bisa masuk Unair. Artinya seharusnya Unair sebagai kampus rakyat, dan biaya pendidikannya bisa murah dan terjangkau. Namun yang terjadi sebagai PTN, biaya masuk Unair termasuk mahal. Untuk biaya dari jalur mandiri, mahasiswa baru harus merogoh kocek lebih dari 150 juta rupiah. Hal ini yang membuat mahasiswa Unair tergerak untuk menuntut perubahan mekanisme pembayaran.

Apalagi muncul peraturan tahun 2011, bahwa mahasiswa dari jalur seleksi nasional, SNMPTN juga harus membayar biaya SP3 (uang pembangunan) sebagai syarat masuk. Padahal sebelumnya, mahasiswa SNMPTN hanya wajib membayar SOP (setara SPP) saja. Kenaikan ini juga memicu protes setelah salah satu pejabat Unair mengatakan bahwa SP3 bagi mahasiswa SNMPTN diakibatkan kuota mahasiswa dari jalur mandiri dikurangi akibat adanya peraturan dari pemerintah. Maka Unair mengaku kekuarangan dana untuk mencukupi anggaran keuangannya. Namun ketika diminta melakukan transparasi keuangan, Unair tetap enggan untuk melakukannya.

Ketika muncul banyak aksi dan unjuk rasa, akhirnya pihak rektorat merubah kebijaksanaannya. Mereka memang tetap memasukkan SP3 sebagai syarat utama masuk mahasiswa baru. Tapi mereka menggunakan gaji orang tua mereka. Sehingga dibuat secaa proporsional. Tapi hal ini tetaplah menimbulkan polemik ketika dilakukan dilapangan.

Dari sini, kita tahu bahwa gerakan sosial sekecil apapun bisa membawa dampak dirubahnya kebijakan. FAM Unair serta kenaikan biaya pendidikan Unair selalu diliput oleh media. Hal ini menimbulkan polemik di masyarakat. Hal ini menjadikan mereka memiliki kekuatan dukungan dari luar kelompok mereka sehingga mereka juga selalu melakukan aksi secara rutin sampai tuntutan mereka bisa tercapai.

Meskipun begitu, pihak Rektorat Unair selaku pihak elite di kampus memang memiliki wewenang dan kekuasaan yang lebih tinggi. Mereka berusaha melakukan kompromi politis dengan cara tetap menerapkan kebijakan SP3 bagi mahasiswa baru dari SNMPTN tapi melalui mekanisme proporsional. Meskipun secara signifikan sebenarnya pihak Rektorat tetap memaksakan kebijakan mereka, namun dengan sedikit komporis.

Sebagai advokasi mahasiswa sebaiknya FAM Unair tetap fokus terhadap kajian advokasi mereka yaitu melindungi mahasiswa yang merasa didiskriminasikan di kampus mereka sendiri. Agar ada semacam perlindungan bagi mahasiswa dan adanya mekanisme demokrasi di wilayah kampus.

Sumber :

http://beritajatim.com/

Presentasi kuliah Gerakan Sosial dan Politik

 

TUGAS UTS TAUFIK AGUNG WIDODO, DEPARTEMEN POLITIK FISIP UNAIR

MATA KULIAH GERAKAN SOSIAL DAN POLITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s