Masculinities and Violence in Indonesia (and India)

Prof. Pan Nilan at FISIP Unair

Diskusi Ilmiah Reboan FISIP Universitas Airlangga kembali didakan Rabu (19/10) kemarin. Pengisi kali ini adalah Profesor Pam Nilan, dari University of Newcastle, Australia. Beliau mengadakan penelitian dengan FISIP Universitas Sebelas Maret, Solo. Judul penelitian yang dipresentasikan adalah Masculinities and Violence in Indonesia (and India). Diskusi kali ini diadakan secara bilingual bergantian (ceile, world class rek!) antara Prof. Nilan dan Pak Argyo (wakil dari Departemen Sosiologi UNS).

Intinya adalah mereka meneliti dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Semua responden dan informan adalah laki-laki. Intinya mereka berusaha menjelaskan dari sisi pria, dan tidak menyertakan perempuan di penelitian ini. Mereka berusaha menjelaskan sisi maskulinitasnya. Responden disini adalah mereka semua yang pernah atau juga menjadi korban kekerasan.

Mereka ingin menjelaskan apakah di indonesia maskulinitas dilihat sebagai budaya atau memang kekerasan ??

Hasil yang didapat dari penelitian ini, berdasarkan kuantitatif. Mereka menggunakan 1004 responden di Indonesia. Kemudian dari kualitiatif saya lupa, tapi secara umum ditampilkan beberapa respondne dari berbagai latar belakang. Mulai dari pengangguran, buruh, satpam, polisis/tentara, dosen, PNS dsb. Lalu yang lajang menikah juga ada.

Maka ditemukan bahwa sebian besar (lebh dari 50%) pernah melakukan kekerasan kepada lawan jenisnya (baik istri atau pacar).Kemudian umumnya mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah wajar sebagai bentuk hukuman kepada wanita. Semakin tinggi pendidikan semakin rendah angka kekerasa. Sebaliknya, semakin rendah pendidikan semakin tinggi kekerasan. Menganggur, minum-minuman, main judi, suka nongkrong dengan teman-teman gank, melihat orang lain lebih kaya atau mampu dsb mampu meningkatkan angka kekerasan terhadap wanita. Hal ini disebabkan pria sedang tertekan dan bingung emelampiaskannya kepada siapa.

Namun dengan tingginya pendidikan, adanya warning dari pemerintah tantang KDRT, adanya pelayan keamanan (polisi, tentara, satpam dsb) mampu mengurangi kekerasan kepada wanita. Tapi ada juga yang berpendapat mereka sebagai tenaga keamanan juga tidak terlalu memberi dampak signifikan terhadap berkurangnya angka kekerasan.

Di Indonesia, khususnya Jawa pria lebih sering digambarkan dengan garwo (istri), bendo (harta kekayaan), turonggo (kendaraan atau zaman dulu biasanya kuda), kukilo (burung peliharaan) dan pusoko (senjata, dulu biasanya keris).

Kesimpulannya bisa dikatakan kekerasan, bisa juga sebagai budaya.

Budaya karena memang sudah turun temurun hal ini terjadi. Namun kekerasan ketika tekanan lingkungan, khususnya ekonomi (baik karena menganggur, melihat orang lain lebih mampu dsb) membuat diri tertekan dan sering melampiaskannya kepada perempuan.

Kritik : Kritiknya lebih kepada kenapa hanya menggunakan subjek kaum pria saja. Padahal ada banyak faktor perempuan yang bisa saja meningkatkan kekerasan terhadap perempuan.

Note : Ketika acara berlangsung juga dihadiri LSM pembela hak-hak perempuan. Ada yang ingin saya tanyakan, kenapa umumnya mereka ini berambut pendek dan cepak. Mereka memang menginginkan kesetaraan gender. Apakah kesetaraan gender identik dengan berubahnya perilaku perempuan menjadi seperti pria. Saya takut, wanita cantik seperti mereka malah menjadi lesbian, demi membela hak-hak sesamanya.

semoga tidak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s