Nasib Angkot

Kemarin Minggu (9/10) saya mendapatkan kesempatan menyebalkan menarik untuk menggunakan transportasi publik. Setelah bertahun-tahn sejak (mungkin) terakhir SMA saya tidak pernah lagi menggunakan bus, ataupun angkot di Surabaya saya berkesempatan mencicipi angkot dan bis ala Jawa Timur. Hihihihi.

Banyak orang yang bilang jika semakin hari pengguna transportasi publik semakin menurun. Ada benarnya, tapi tidak benar juga. Selama ini saya termasuk pengguna aktif layanan PT KAI, yaitu kereta api. Saya jarang-jarang menemui kereta yang sampai kosong tak berpenumpang. Minimal semua tempat duduk ditempati dan tidak ada penumpang berdiri. Hal ini terjadi ketika hari biasa alias bukan akhir pekan dan bukan hari libur. Tapi ketika libur tiba, maka jangan ditanya betapa menariknya menggunakan jasa angkutan kereta karena dipastikan akan banyak terjadi rebutan tempat duduk :p.

Okeee lanjut ke angkot dan bus tadi. Untuk layanan bus, khususnya bus antar kota masih dikatakan ramai. Bahkan masih ditemui penumpang yang sukses berdiri di dalam bus. Namun hal ini berbeda ketika saya berpindah ke bus dalam kota dan angkot. Sungguh mengenaskanΒ kasihan karena penumpang angkot dan bus begitu sedikit. Bisa saja hal ini terjadi sebab kemarin adalah hari libur. Sehingga umumnya kantor dan sekolah ikut libur juga.

Alhasil ketka saya menggunakan angkot saya melihat wajar supir angkot berkaca-kaca. Ampun, pak. Saya sendiri menjadi ikut-ikutan trenyuh dan nelangsa. Apalagi kemarin saya baru saja membuat tugas Dasar-dasar Jurnalistik yang mengambil tema kasus kriminalitas di angkot. Kasus yang masih hangat adalah pemerkosaan di seperti pembunuhan dan pemerkosaan yang terjadi di angkot Ibukota.

Memang sudah diketahui sejak mudahnya masyarakat mendapatkan kredit kendaraan bermotor, hampir setiap orang kemudian memiliki motor. Efisien waktu dan uang merupakan alasan logis kenapa masyarakat memilih motor. Memang motor dibutuhkan uang untuk membeli atau mengkreditnya. Tapi setelah itu dengan hitung-hitungan bensin bila dibandingkan dengan biaya untuk membayar angkot maka lebih ekonomis membeli bensin.

Lantas bagaimanakah nasib angkot ?

Pemerintah terus mendesak agar adanya pengecekan rutin terhadap kondisi layak angkot yang beroperasi.Namun bagaimana mau diservis, ketika penupangnya saja hanya segelintir orang. Ketika uang yang masuk harus dipotong dulu untuk pemilik angkot, ongkos retribusi, dsb. Hasilnya, untuk servis angkot jelas tidak mencukupi.

Harga dinaikkan ?

Jelas tidak logis, semakin mahal angkot maka penumpangnya semakin menjauh.

Lalu ini menjadi tugas pemerintah agar mampu menyediakan layanan transportasi publik yang nyaman, murah serta aman.

Jadi, pemerinta semakin banyak memiliki PR saja. PR pemerintah bukan hanya reshuffle saja. Namun bagaimana dengan reshuffle bisa memperbaikai kebijakan yang pro-rakyat. Bukan pro-money.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s