Ideologi Media (Komik, Film, Film Indie)

1. Pengertian Ideologi dan Media

Ideologi sering diartikan sebagai sebuah gagasan, maupun ide. Dalam ideologi terdapat sebuah pemikiran yang abstrak yang seringkali diterapkan pada berbagai persolan publik yang pada akhirnya disangkutkan dengan permasalahan politik. Meskipun sebenarnya tujuan utama dibalik ideologi adalah menawarkan perubahan melalui pemikiran normatif.
Sedangkan didalam konteks media, para pakar menerjemahkan ideologi sebagai sistem makna yang membantu menjelaskan dan mendefinisikan realitas dan membantu dalam membuat nilai-nilai pembenaran atas realitas itu. Ideologi terkait dengan konsep-konsep seperti “pandangan dunia”, “sistem keyakinan” dan “nilai-nilai”, namun makna ideologi lebih luas dari konsep-konsep itu.
Ideologi bukan hanya untuk meyakini realitas, namun juga cara dasar untuk mendefinisikan realitas. Sehingga ideologi tidak hanya berhubungan dengan persoalan politik; konotasinya lebih luas dan lebih fundamental dari sekedar hal-hal politik saja.
Media pada dasarnya adalah sebuah medium yang memiliki tujuan sebagai perantara penyampai pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikannya (penerima pesan). Disini posisi media tidak lagi bebas nilai karena pasti selalu bermuatan ideologis. Media disini bisa menjual pesan-pesan, gagasan maupun kepribadian sekaligus pandangan tertentu terkait dengan ideologi yang dianut.
Media memiliki pola penyampaian pesan kepada komunikan dengan tujuan dan maksud tertentu. Tujuan sebuah media dalam menyampaikan pesan juga dipengaruhi oleh sebuah pemikiran dasar yang dijadikan patokan dalam penerapan penyampaian pesannya. Sehingga media memandang sebuah realitas yang berdasarkan dari ideologi yang dianut media tersebut.

2. Ideologi Komik

Komik adalah suatu bentuk komunikasi. Cara berkomunikasi yang memainkan gambar dan kata-kata. Seperti layaknya film yaitu foto-foto yang beruntun. Komik juga berarti gambar-gambar yang beruntun dan membentuk suatu simbol pemaknaan yang dapat dianalisis serta dikaji karena membentuk sebuah cerita. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.
Di tahun 1996, Will Eisner menerbitkan buku Graphic Storytelling, dimana ia mendefinisikan komik sebagai “tatanan gambar dan balon kata yang berurutan, dalam sebuah buku komik.” Sebelumnya, di tahun 1986, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan eknis dan struktur komik sebagai sequential art, “susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide”. Dalam buku Understanding Comics (1993) Scott McCloud mendefinisikan seni sequential dan komik sebagai “juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer”.
Pada 1949 muncul ”undang- undang komik” di Perancis yang dengan maksud melindungi kanak-kanak dan remaja telah membentuk komisi yang akan mengawasi penafsiran positif terhadap undang-undang tersebut, dengan ancaman hukuman setahun penjara bagi pelanggarnya. Regulasi ini mungkin bukan penyebab keistimewaan Tintin, tetapi jelas membentuk karakter ala pramuka yang kelewat matang, persis seperti karakter Tintin. Isinya bermaksud mendorong suatu ”moral” kepahlawanan yang menghindari kekerasan, melarang penampilan kemalasan dan berbohong sebagai hal yang menarik, harus bersikap adil, berani, dan jelas tanpa seks.
Undang-undang yang pada 1950 ditambahi larangan atas prasangka etnik ini dianggap mempunyai akar ideologis yang tersusun dari ketersekutuan aneh pendukung komunis, Katolik konservatif, dan para kartunis pengangguran, yang menentukan bahwa dalam bacaan kanak-kanak Perancis mestilah terdapat nilai-nilai ”nasional”. Menurut Pascal Ory, sejarawan dari Universitas Sorbonne penulis Mickey Go Home: The de-Americanisation of The Cartoon Strip, tujuan utama undang-undang yang masih bertahan sampai hari ini tersebut adalah untuk membendung komik Amerika.
Dari sini komik mulai dijadikan sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi seorang komikus. Simbol-simbol pemaknaan yang muncul dalam komik diciptakan komikus untuk menyampaikan suatu pesan. Dasar pembuatan komik oleh komikus adalah penggambaran secara tidak langsung dari realita yang sedang terjadi, realita yang diimajinasikan, dan realita yang di ciptakan komikus demi kepuasannya.
Seorang komikus juga memiliki ideologi yang dianutnya dan komik menjadi representasi dari ideologinya tersebut. Ideologi yang ada dalam komik adalah salah satu bagian yang oleh komikus ingin disampaikan baik secara tersirat atau tersurat.

3. Ideologi Film

Sebagai sebuah media, film tentunya mewakili pandangan-pandangan yang dimiliki oleh kelompok tertentu, termasuk ideologi serta gagasan yang dibawa oleh kelompok tersebut. Hal ini menjadi sangat esensial, karena dalam penyampaiannya, film menyampaikan ideologi dengan lebih halus serta memiliki unsur paksaan.Hal itu dikarenakan ketika kita menonton film komunikasi yang terjadi lebih bersifat satu arah. Dimana kita sebagai penonton akan disuguhi berbagai macam informasi yang ada dan ditampilkan dalam film, dan kita secara tidak sadar diharuskan untuk ‘menelan’ segala macam informasi yang disajikan dalam film tersebut. Lebih tepatnya pesan-pesan bermuatan ideologis yang berasal dari pembuatnya. Memang film sudah terbukti bisa mempengaruhi ideologi penontonnya.
Film sebagai media pada dasarnya merupakan hiburan tersendiri bagi penonton. Selain sebagai hiburan tersendiri, ketika film yang sebenarnya memiliki ideologi bisa menyampaikan pesan dan penontonnya bisa terpengaruh maka film itu berhasil dalam menyampaikannya. Ketika calon penonton pada umumnya menikmati film sebagai sajian audio-visual ini memilihnya sebagai hiburan, mereka mencoba menyelam bersama dalam film itu. Mencoba menikmati saat bersama, tertawa, menangis dan merasa ikut ambil bagian di dalam film tersebut. Selain itu ketika menonton film ada semacam upaya untuk katarsis, melarikan diri sesaat dari hiruk pikuk persoalan sehari-hari. Kemudian film juga dimanfaatkan sebagai alat untuk mendukung propaganda ideologi, pendidikan politik dan hal-hal lainnya. Pada kondisi ini penonton digiring untuk menonton, memahami dan menjadi bagian dari propaganda politik dalam pembuatan film.
Mengenai ideologi dalam dunia perfilman di Indonesia bisa dikatakan bahwa film sekarang sangat miskin ideologi. Lihat saja film-film saat ini hanya berisikan kisah-kisah remaja, percintaan, horor, hingga komedi dewasa yang sangat misikin ideologi. Production House (PH) membuat film-film tersebut dengan dalih ‘tuntutan pasar’. Padahal tuidak semua tuntutan pasar itu baik, akhirnya sines kita miskin ideologi dan hanya sekadar mencari keuntungan materi semata. Hal ini mengakibatkan penonton kita tidak akan mendapatkan ‘ilmu’ maupun ‘ideologi’ ketika menonton film. Begitu jarangnya film kita yang memuat kisah mengenai kritikan terhadap penguasa, pemerintah maupun pemimipin kita. Lihat saja, film di India, Jepang mereka bisa melakukan kritikan terhadap siapa saja baik itu pemimpin atau raja mereka, pemerintah, pejabat, polisi, maupun terhadap warga negaranya sendiri. Ini diakibatkan pemerintahan kita sejak zaman Orde Baru (Orba) dimana Soeharto memang melarang segala macam bentuk film yang sarat pesan dan kritikan. Akibatnya penonton kita cenderung malas untuk melihat film yang sarat akan ideologi. Meskipun begitu saat ini masih ada film-film kita yang menyitir realita kehidupan yang sebenarnya bukan hanya membuat film yang sesuai dengan tuntutan pasar. Contohnya film Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, GIE, Berbagi Suami, Detik Terakhir, Ruang, Badai Pasti Berlalu, Jamila dan Sang Presiden, Alangkah Lucuya Negeri Ini, Laskar Pelangi dan banyak lagi film berisi lain.

Film Independen.

Salah satu jenis film adalah film independen. Dalam buku Ketika Film Pendek Bersosialisasi, Gotot Prakoso menyebutkan film independen sebagai film pendek. Meskipun begitu banyak orang yang menyebuttnya dengan film indie, independen, pendek, atau juga film pendek. Film pendek atau indie ini merupakan film dengan durasi yang pendek, tetapi dalam pengambilan gambarnya setiap ‘shot’ yang ada pasti mewakili peristiwa atau kejadian yang penting sehingga dalam setiap adegannya memang sarat makna. Berbagai peristiwa itu menandai suatu usaha yang sekaligus memberi perlawanan terhadap situasi perkembangan film Indonesia secara utuh.
Film ini biasanya dibuat dari kreatifitas anak muda, dimana dengan biaya yang seminimal mungkin. Saat ini film indie sedang naik daun, karena melalui film indie banyak terobosan-terobosan serta inovasi baik dari ide cerita, pemain, serta sarat akan kritikan. Film independen yang biasa kita kenal dengan film indie dianggap sebagai salah satu wujud dari ideologi anak muda. Melalui pengambilan ide cerita dan gambarnya akan terlihat ekspresinya. Menurut anggota Lembaga Sensor Film (LSF) bahwa film pendek sama sepeti film pendek pada umumnya, dengan durasi sekitar 10 – 15 menit. Saat ini film indie mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dengan makin banyaknya festival film indie, serta perlombaan film indie membuat makin banyak anak muda yang semakin kreatif dalam membuat karya film indie.
Meskipun pada awalnya film indie ini kurang mendapatkan perhatian ditengah-tengah masyarakat, tetapi saat ini film indie Indonesia telah banyak mendapatkan perhatian dan penghargaan dari luar negeri. Banyaknya festival-festival di luar negeri yang mengundang film indie menjadikan film indie sebagai public relations untuk perfilman Indnesia, menggantikan film-film mainstream yang banyak diputar di bioskop yang kurang banyak berbicara di kancah internasional.
Film pendek berhubungan dengan cerita yang pendek, tetapi bermakna besar, sebagaimana terjadi dalam dunia visual art, telah mengalami berbagai eksplorasi dari bentuk dan kreasi yang menghasilkan style yang sangat khas. Karya Luis Bunuel, Maya Deren, dan karya-karya yang dibuat oleh Stan Brakhage atau Andy Warhol telah lebih jauh memberi komentar dengan style MTVdibandingkan dengan apa yang dilakukan sebelumnya dalam produksi film main-stream. Pembuat film seperti Stan Brakhage yang tertarik dengan proses menumpuk-numpuk gambar bukan menciptakan efek, melainkan banyak mewujudkan nilai simbolik sebagaimana terjadi pada refleksi diri dan mewujudkan dengan peralatan untuk menjadi manipulasi kemudian disampaikan dalam bahasa visual. Beberapa pembuat film pendek memosisikan diri sangat stylistic seperti halnya minimalis Andy Warhol. Sebenarnya posisi style-nya sangat jelas sebagai lawan yang memosisikan isinya, bahwa pengalaman dari film-filmnya menjadi komentar dalam medium melebihi interpretasi atas lingkungan atau dunia secara umum. (Prakosa, 2001: 25-26).
Kelebihan film indie, biasanya tidak dipatok dengan durasi waktu seperti film kebanyakan. Mereka bisa membuat film indie dengan durasi hanya sekitar 10-30 menit saja. Film indie juga tidak melibatkan Production House (PH) maupun pemodal sehingga untuk memproduksinya tidak harus menunggu dananya cair dulu. Mereka menggunakan dana yang serba terbatas dan minim selama proses produksi, bahkan seringkali pemainnya tidak dibayar. Selain itu peralatan yang digunakan juga tidak harus menggunakan peralatan yang canggih, untuk kamera yang digunakan terkadang hanya handycam. Selain itu dalam film indie ideologi yang digunakan lebih banyak menyiratkan realitas kehidupan, kemanusiaan yang jarang diungkapkan dalam film-film kita.
Sedangkan kekurangan film indie, dimana pembuatnya yang terlalu idealis menjadikan film indie seringkali sulit diterima dimasyarakat karena setiap adegan yang ditampilkan terbtas oleh waktu, dan tiap ‘shoot’ nya diharusnya memiliki makna dan pesan tertentu mengakibatkan maknanya seringkali diterima berbeda-beda oleh penontonnya. Kemudian kebanyakan sineas muda yang membuat film indie hanya menjadikan film indie sebagai batu loncatan mereka untuk terjuan ke dalam idustri film yang sesungguhnya. Hal ini menjadikan sineas muda dalam film indie tidak bertahan lama, karena mereka lebih memilih untuk terjun ke industri film yang memiliki kemapanan dan menghasilkan secara materi.

Tugas Penngantar Kajian Media 2009, Taufik Agung Widodo FISIP Unair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s