Kisah di Dusun Lawak, Desa Lawak, Lamongan

Dalam rangka memenuhi kewajiban mata kuliah Politik di Desa, maka seluruh mahasiswanya diharuskan melaksanakan kuliah lapangan di pedesaan. Pada semester ini desa yang dituju adalah desa-desa di Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Kelompok saya berkesempatan meneliti di Desa Lawak. Terdiri dari tujuh anggota, kami berangkat ke Lawak pada hari Kamis (9/6) jam 10.00. Sebelumnya teman saya sudah melakukan survei dengan kelompok kami dan menggambarkan keadaan Desa Lawak yang begitu jauhnya dari pusat kota kecamatan Ngimbang. Sesampainya disana ternayat memang benar, kondisi jalan begitu parah. Hampir sama dengan jalan menuju Sidareja, Cilacap tempat kakak perempuan saya bekerja. Kami menuju rumah Pak Sekdes, kemudian menuju rumah Kepala Dusun (Kasun) Lawak, Bapak Supriyo. Tempatnya yah lumayan memang penggambaran kondisi rumah petani di desa. Rumah yang hanya beralaskan tanah, dekat dengan langgar (mushola), orang-orang yang ramah, dan makanan yang mewah. Kenapa saya katakan mewah, karena selama empat hari disana lauknya berganti-ganti dari daging sapi, ayam, telur. Saya saja dirumah di desa saya seringnya makan tempe, mendoan dan tahu. Haha, namun karena rumah Pak Kasun selalu dijadikan tepat penginapan bagi mahasiswa yang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) maka bisa dipastikan hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan ketika kedatangan mahasiswa dari desa kota.
Banyak pengalaman disana, mulai dari mayoritas penduduknya yang berlatar belakang kelompok NU (Nahdatul Ulama), adanya minoritas kaum MD (Muhammadiyah), LDII ditengah-tengah perkampungan NU dengan masing-masing kelompok yang memiliki langgar sendiri-sendiri. Hingga hal-hal mistis yang pastinya begitu nyata di pedesaan (kebetulan kelompok saya sangat istimewa karena tiga dari tujuh anak bisa melihat hal-hal ganjil disekeliling mereka, yang dua sudah begitu ahli sedangkan satunya masih baru pertama alias tahap pemula). Perjalanan mengelilingi desa jalan kaki, namun selalu bertemu dengan bapak dosen, Pak Wisnu ditengah jalan, pulang ke tempat penginapan menggunakan mobil pick-up, menggunakan motor rusak tua bertipe Honda Green, yang bukan hanya tua namun memang kondisinya sangat nyaris rusak parah. Ditambah kondisi jalan yang bukan hanya naik turun, tapi juga rusak, bergelombang, akibat kondisi tanah yang labil, dan diperparah karena selalu dilewati oleh truk-truk besar bermuatan sangat banyak. Tidak lupa kejadian kejar-kejaran dengan Pak Lurah.
Pengalaman di Desa Lawak sunggu menyenangkan, semoga kuliah lapangan kali ini bisa menambah pengalaman bagi kelompok kami pada khususnya, dan untuk warga sekitar Desa Lawak yang sudah kami repoti, serta mahasiswa Ilmu Politik yang mengambil mata kuliah Politik di Desa pada umumnya.
Hasil penelitian akan saya ceritakan nanti, setelah tugas laporannya selesai.
Doakan yah.

8 thoughts on “Kisah di Dusun Lawak, Desa Lawak, Lamongan

  1. rivafauziah says:

    Salam dan sukses selalu..

  2. setiawan says:

    Silahlan berkunjung lagi di desa lawak sekarang. Coba di lihat lg kondisinya. Jika tidak suka makan daging,telur dan ayam, kami bisa menyediakan tahu tempe dan menu spcial pepes lamtoro he…he….. memo di desa lawak sekarang 0% gizi buruk, karena bpk kades mengadakan progam 4 sehat 5 sempurna he..he……

  3. Haha, iya lama gak ke sana. Mas ada kontak yg bisa dihubungi gak. Biar bisa sms ….

  4. 515'471 says:

    sng bc ini..jd ingat ms lalu..my love st471..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s