Pentingkah Peringatan HARDIKNAS

Siapa yang tidak tahu tanggal 2 Mei hari apa. Ya, benar ini adalah Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Saya tidak akan membahas sejarah peringatan Hardiknas, (saya sudah lupa sejarahnya, mungkin terkait dengan Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan bidang pendidikan) namun lebih kepada esensi pendidikan di Indonesia. Setiap tahun peringatan Hardiknas selalu diwarnai dengan buruknya pendidikan di Indonesia, akses pendidikan yang tidak merata,biaya ynag tidak terjangkau dan keluh-kesah mengenai nasib pendidikan kita dimasa depan. Seperti apakah kita memaknai pendidikan di Indonesia.

Dalam UU Dasar 1945 sebenarnya mensyaratkan agar semua elemen masyarakat bisa mengakses pendidikan . Meskipun pemerintah mewajibbelajarkan (Wajar) 9 tahun kepada rakyat Indonesia. Wajar 9 tahun yang mewajibkan pendidikan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) ternyata belum bisa diakses oleh semua rakyat Indonesia. Lihat saja tayangan ketika Haridknas, dimana banyak anak jalanan, pemulung, dan orang-orang pinggiran tidak mampu bersekolah. Belum lagi anak-naka Indonesia yang emmiliki keterbelakangan mental, memiliki kekurangan pada fisik (tuna netra, tuna rungu dsb) juga masih sulit bersekolah. Lantas, untuk apa Hardiknas ketika setiap tahun tidak ada laporan β€˜menyenangkan’ mengenai perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Adanya laporan dan catatn buruk yang terus bertambah setiap tahun. Sungguh ironis.

Pendidikan merupakan modal utama bagi kemajuan bangsa. Lihat saja negara manapun pasti meiliki prioritas utama dalam dalam hal anggaran pendidikan. Memang negara kita sudah memiliki dana 20% dari APBN untuk program pendidikan. Namun 20% itu harus dibagi-bagi lagi, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Belum lagi adanya dana yang mengalir kekantong-kantong pejabat kita alias korupsi. Artinya dan 20% sangat tidak cukup untuk memenuhi pendidikan yang layak bagi bangsa ini. India saja memiliki memiliki priorotas dalam hal pendidikan, mengapa negara (atau pejabat negara, lebih tepatnya) masih belum menganggap pendidikan merupakan hal yang penting.

Akses pendidikan juga terkait dnegan infrastruktur yang ada. Kasus siswa SD menyebrang sungai deras dengan berpegangan pada seutas tali bukan kejadian yang baru. Jalanan rusak, berjalan puluhan kilometer agar bisa bersekolah masih bisa ditemui di era teknologi seperti saat ini. Apa petingnya pendidikan internasional, jika ternyata pendidikan hanya bisa diakses oleh kalangan atas saja. Sepertinya pertambahan sekolah yang rusak dan bobrok berbanding lurus dengan munculnya sekolah Rintisan Internasional yang memiliki gedung megah ber-AC. Itulah realitasnya, sunggguh ironis.

Fungsi pendidikan mengajarkan moralitas bagi anak bangsa juga muali pudar. Lihatlah kasus anak SD memperkosa teman sejawatnta, atau guru SD melakukan cabul, Kepala Sekolah yang berselingkuh, hingga kasus Kepala Sekolah yang membantu perbuatan curang saat Unjian Nasional. Tanpa bermaksud buruk, saya sendiri mengalami bagaimana ketika Ujian Nasional dengan sengaja ditinggal oleh pengawas ujiannya, atau budaya mencontek yang dibiarkan demi tercapainya angka keulusan yang tinggi. Artinya apa yang salah, apakah sistem pengajarannya, sistem pendidikan atau salah guru yang mengajar. Untuk budaya mencontek dibiarkan saja memang tidak semua pengawas seperti itu, ada juga yang ketat dalam mengawasi ujian. Namun kebanyakan memberi kelonggaran, bahkan disela-sela doa anak yang Unas, tentu berharap agar pengawas yang menjaga tidak terlalu ketat. Hehe, memang aneh, namun yang lebih aneh lagi apa fungsi belajar, ujian selama tiga thaun ketika hanya ditentukan dalam waktu tiga sampai empat hari saja. Apakah proses yang berjalan selama pendidikan itu tidak dihitung dan hanya kalkulasi nilai saja yang diperhitungkan.

Kompleksitasnya permasalahan pendidikan di negeri tercinta ini seharusnya sudah mulai diperbaiki. Tidak penting ada sekolah bertaraf internasional, kalau masih banyak anak kita yang berusaha mengais sampah demi sesuap nasi. Tidak penting gedung megah ber-AC kalau budaya kejujuran saja jauh dari pola pendidikan kita. Tidak penting gembar-gembor dana pendidikan 20%, dana BOS yang menggratiskan pendidikan kita ketika sebagian dana itu mengalir ke kantong-kantong manusia tidak beradab dan membiarkan generasi penerus bangsanya tetap miskin tercepit antara kesulitan mencari makan dan harapan hidup yang rendah.

Majulah pendidikan Indonesia, jangan jadikan peringatan Hardiknas sebagai momen untuk menambah laporan betapa buruknya pendidikan nasional. Tetapi kita menginginkan peringatan Hardiknas kita jadikan momen istimewa untuk memperingati kemajuan pendidikan kita demi keberlangsungan pembangunan bangsa. Sebenarnya bangsa penerus bangsa kita yang berprestasi, dilihat dari banyaknya anak yang berhasil meraih medali internasional. Namun, dengan pembenahan disana-sini serta komitmen kuat dari pemerintah tentunya bisa terus memperbaiki kondisi pendidikan negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s