ALAT TRANSPORTASI MASAL

Kota-kota besar tentu memiliki masalah dengan yang namanya kemacetan. Rutinitas ini seakan tidak kunjung selesai, khususnya di Indonesia. Tengok saja Ibukota Jakarta, sebagai pusat bisnis dan pemerintahan di Indonesia kemacetan merupakan masalah pokok yang seakan-akan dibiarkan tanpa solusi oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah). Hal ini semakin diperparah ketika hujan turun cukup deras yang mengakibatkan banyaknya genangan air dan yang terparah, terjadinya banjir. Salah satu mengurangi kemacetan kita bisa menggunakan alat transportasi masal yang dimiliki daerah tersebut. Di Jakarta KRL, bus Trans Jakarta bisa menjadi solusinya . Sedangkan di Surabaya kereta lokal komuter rasa-rasanya patut dicoba.
Kemarin Kamis (14/4), saya mencoba menjajal komuter tujuan Porong (Sidoarjo) sampai Semut (Surabaya Kota). Sebelumnya saya sudah pernah naik komuter ini beberapa kali. Jadwal keberangkatan pukul 05.55. Pagi-pagi saya lumayan terburu-buru, karena biasanya naik sepeda sepeda motor pukul 06.00. Sampai disana, setelah saya parkir motor saya (biaya parkir Rp 1.000), saya membeli tiket seharga Rp 2.000. ternyata keretanya (seperti biasa) molor. Seharusnya pukul 05.55, kalau tidak salah pukul 06.05-an. Ternyata banyak juga yang menggunakan jasa komuter ini, karena begitu masuk saya sudah tidak mendapatkan tempat duduk lagi, dan berdiri sepanjang perjalanan. Yah, karena terbiasa naik sepeda motor ke kampus, kali ini berdiri pun nggak masalah. Komuter ini berhenti di beberapa stasiun mini (istilah saya) yang memang khusus untuk berhentinya komuter ini. Perjalanan sekitar 1 jam. Saya turun di Stasiun Gubeng pukul 07.00-an. Begitu turun, saya lanjutkan perjalanan saya dengan angkot WB. Sebenarnya kampus B Unair cukup dekat dengan Stasiun Gubeng, tapi kalau mau jalan kaki jelas aja banjir keringat (aslinya males). Ongkos naik angkot Rp 2.000. Sampai di depan kampus sekitar pukul 07.15-an. Sesuai dengan perkiraan, karena sebelumnya pernah naik komuter yang jadwalnya pukul 07.44 (tapi berangkatnya tetep jam 07.50-an, molor!!) dan sampai kampus jam 07.45-an. Alhasil telat banget sampai kampus.
Kemudian sorenya saya pulang naik komuter juga tentunya (mau naik angkot sampai Sidoarjo jelas males!!). Jadwalnya pukul 15.30, dan pukul 15.00 saya sudah menunggu angkot T2 didepan kampus. Lumayan lama juga nunggu angkot, saya takut ketinggalan komuter soalnya ada lagi pukul 17.45. Alamak, nggak mungkin banget nunggu berjam-jam di stasiun. Untunglah angkotnya ada, dan sampai stasiun tepat waktu. Ternyata ada kereta Penataran tujuan Surabaya-Malang berangkat pukul 15.20, selisih sepuluh menit dengan jadwal komuter. Makanya saya nyoba naik ini, yah itung itung buat pengalaman. Ternyata harga tiketnya Rp 4.000. Bedanya dengan komuter, karena ini memang kereta non-lokal jadi untuk stasiun-stasiun mini tidak disinggahi dan memang lebih cepat dibandingkan naik komuter. Sayangnya begitu naik, penuh banget dan berdiri. Untungnya dapet tempat duduk pas ada penumpang turun di stasiun Gedangan. Sampai di Stasiun Sidoarjo kalo nggak salah pukul 16.00 atau kurang. Jadi memang terbukti lebih cepat.
Ok, sekarang itung-itungan mana yang lebih murah ke kampus naik sepeda motor atau menggunakan komuter (plus jasa angkot).
Sepeda motor = Bensin Rp 10.000 untuk 2 hari perjalanan bolak-balik.
Tiket komuter + tiket kereta penataran + angkot (2X) + ongkos parkir =
2.000+4.000+4.000+1.000 = Rp 11.000
Secara itung-itungan naik motor Rp 10.000 lebih irit, bisa untuk dua hari namun untuk komuter hanya satu kali perjalanan. Bedanya naik komuter tidak terlalu capek, beda dengan sepeda motor yang memang terasa capek banget.
Alat transportasi yang memadai merupakan kebutuhan wajib di kota-kota besar. Sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan, alat transportasi masal dibutuhkan agar warganya tetap nyaman dan aman menjalankan rutinitas hariannya. KRL, komuter, busway, bisa menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan. Namun, di Indonesia perlu dilakukan upaya pembenahan agar alat transportasi masal ini bisa dijadikan alternatif yang menyenangkan. Karena seringkali menggunakan alat transportasi masal malah mengesalkan. Kereta contohnya, sering tidak tepat waktu. Bus, maupun angkot juga sering ugal-ugalan sehingga bukan hanya membahayakan penumpangnya saja namun juga pengendara yang lain. Namun ketika bus sudah memiliki jalur sendiri, seperti Bus Trans Jakarta juga memiliki masalah akibat diserobot pengguna jalan yang lain yang tidak tahan akibat kemacetan.
Menurut saya, pemerintah baik pusat maupun daerah mulai sekarang harus membenahi masalah transportasi sebelum semakin tidak beraturan. Sekarang saja kondisinya sudah sedemikian parah, apalagi beberapa tahun kedepan. Keduanya harus melakukan koordinasi dengan Kementrian Perhubungan sebagai pembangunan jangka pendek maupun jangka panjang. Masalah utamanya dalam pembenahan alat transportasi masal. Dibuat bus/angkot yang memng memenuhi standar yang ada dengan supir-supir yang kredibel agar tidak ugal-ugalan di jalan. Kemudian komuter/KRL bisa menjadi solusi yang ampuh sebagai alat transportasi masal karena saya sendiri menikmati perjalanan menggunakan komuter meskipun bercampur jengkel akibat jadwal molornya yang terkadang keterlaluan. Sehingga, diperlukan pembenahan dalam hal ketepatan waktu dan penambahan energi ekstra bagi alat transportasi masal ini. Lihat saja negara-negara maju, memiliki kereta super cepat, namun memang mereka menggunakan bantuan tenaga nuklir sebagai sumber energi listriknya. Akhirnya nuklir juga menjadi masalah dan perdebatan yang tidak kunjung usai. Oleh karena itu dibutuhkan energi alternatif sebagai pengganti energi yang murah dan efisien. Penambahan armada juga diperlukan agar nantinya semakin banyak armada yang difungsikan maka jeda tunggunya tidak terlalu lama.
Setelah itu semua bisa dilakukan maka pemerintah perlu melakukan regulasi dalam mengurangi kemacetan. Bisa mulai dari pelarangan plat nomor memasuki wilayah tertentu, pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi, jalur three ini one, hingga pelarangan penjualaan kendaraan baru dalam kurun waktu tertentu. Mungkin susah untu mewujudkannya, namun kita semua berharap agar kemacetan di Indonesia bisa berkurang dan tidak lagi membuat stres penggunanya, termasuk saya dan Anda.
Note : Ini ada jalur yang biasa dilalui komuter Porong-Tanggulangin-Sidoarjo-Pagerwojo-Baduran-Banjarkemantren-Gedangan-Sarwotratap-Waru-Kertomenanggal-Jemursari-Mergorejo-Wonokromo-Ngagel-SurabayaGubeng-SurabayaKota (Semut).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s