(Menjamurnya) International Standard di Pendidikan Indonesia

RSBI atau Rintisan Sekolah Berstandar Internasional mulai banyak bermunculan di sekolah-sekolah negeri kita. Ada juga International Class di beberapa perguruan tinggi negeri kita. Lantas yang menjadi pertanyaan mengapa belakangan mulai banyak ‘standar internasional’ di dunia pendidikan Indonesia. Kita seharusnya tidak boleh bangga dengan banyaknya ‘standar internasional’, namun seharusnya kita prihatin. Hal ini menandai percaya tidak percaya pendidikan kita semakin lama semakin usang dan ketinggalan hingga tidak mampu bersaing menghadapi tuntun dalam era globalisasi dunia.

RSBI dibuat mewajibkan siswa-siswinya menggunakan bahasa pengantar BAHASA INGGRIS BUKAN BAHASA JAWA INDONESIA. Mengapa hal ini perlu dilakukan, bukankan kita hidup di Indonesia, berinteraksi sosial dengan sesama orang bule Indonesia juga. Mengapa sekolah yang juga masih menggunakan UJIAN tidak NASIONAL sebagai syarat lulus sekolah menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris bukan bahasa Indonesia. Lantas kemanakah nasib bahasa Indonesia kita. Seperti yang kita ketahui, bahwa sebagian besar siswa-siswi yang tidak lulus dikarenakan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Berarti penduduk kita semakin lama semakin tidak paham dengan bahasa pemersatu, bahasa Indonesia. Mereka lebih menguasai b4H@$4 4L@YY, atau bahasa g4HooOOOLLL. Sungguh tragis!!!

Pendidikan seharusnya mengangkat budaya kearifan lokal dengan mengembangkan bakat dan minat siswa didik agar mereka bisa meraih tujuan dan masa depan mereka sesuai dengan ketrampilan dan kemampuan siswa didiknya. Dengan pendidikan tentu bukan hanya meraih nilai-nilai semata, namun proses serta tujuan pendidikan haruslah dipahami sebagai sebuah satu kesatuan rangkaian dalam proses pembangunan bangsa. Bagaimana bangsa ini mau maju kalau pendidikan saja masih susah diakses oleh kalangan bawah alias orang miskin. Maju disini bukanlah penggunaan bahasa bule sebagai bahasa utama mereka, namun mereka diarahkan agar siswa didik mampu memaksimalkan kemampuan yang mereka miliki. Buktinya banyak siswa kita yang bisa meraih medali dalam kompetisi bergengsi tingkat dunia. Namun, masih banyak juga yang hobinya korupsi, menipu, hingga yang terbaru pejabat menonton video porno di dalam gedung parlemen. Ini semakin membuktikan bahwa pendidikan kita tidak mengajarkan moralitas dan santunitas dlaam proses belajar-mengajarnya.

Polemik UNAS juga masih berkembang. Mulai dari contek-mencotek didalam kelas hingga transaksi penjualan jawaban UNAS yang tentunya berhubungan langsung dengan orang dalam Dinas Pendidikan. Apakah ini yang dinamakan STANDAR INTERNASIONAL ?? Mereka saja tidak pernah mengatasnamakan pendidikan mereka dengan pendidikan Internasional. Sebab negara-negara seperti AS, Australia, Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Rusia, Jepang, Cina dsb menyesuaikan pendidikan mereka agar sesuai dengan kebutuhan rakyat mereka. Bukannya memaksakan pendidikan asing yang akan berbenturan langsung dengan kebudayaan lokal meraka.

Memang ada standar-standar seperti IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) yang dimiliki oleh CIE (Cambridge International Examination) atau IB (International Baccalaureate). Keduanya memang bisa dipakai, manakala peserta didik menginginkan melanjutkan studi (kuliah, pada umumnya) di luar negeri. Namun, jika mereka cukup puas untuk masuk kuliah di PTN/PTS di Indonesia, apakah masih membituhkan sertifikat-sertifikat internasional. Bukankah mereka hanya butuh agar bisa lolos SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) ataupun ujian mandiri universitas saja dan sepertinya UNAS pun seakan menjadi perjuangan yang sia-sia belaka karena standar SNMPTN dan UNAS juga sangat berbeda, berdasarkan pengalaman saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s