POLITIK DI DESA : Pola Kekuasaan Lurah di Desa Lawak, Kec. Ngimbang, Kab. Lamongan

Pendahuluan

Cliffird Geertz dikenal karena berhasil membagi trikotomi varian budaya. Penelitiannya yang dilakukan di Mojokunto menggambarkan bahwa adanya varian priyayi, santri dan abangan disana. Penelitian ini membuka wawasan mengenai konsep kelas sosial dalam masyarakat yang sebelumnya hanya mengenal kelas borjuis dengan proletar. Varian priyayi merujuk kepada mereka yang memang mmeiliki garis keturunan bangsawan. Namun dalam perkembagannya, yang bisa dikategorikan priyayi bukan hanya mereka yang memiliki darah biru saja tetapi mereka yang memiliki pekerjaan mapan dalam struktur pemerintahan, maupun memiliki kelas ekonomi yang tinggi bisa dikatakan sebagai golongan priyayi. Sementara santri pun bisa dibagi menjadi santri modern dan santri kolot. Santri modern adalah mereka yang menjalankan syariat agama Islam dan secara umum sudah meninggalkan kebiasaan dan adat istiadat yang dilakukan oleh leluhur seperti slametan, percaa pada hal-hal mistis dan sebagainya. Santri kolot sama dengan santri modern, sebab mereka memang sudah menjalankan syariat Islam namun golongan ini masih menjalankan kebiasaan seperti slamelatn dan sebagainya. Sementara itu varian abangan adalah mereka yang memegah tegh prinsip kebudayaan dari leluhur dan tidak meninggalkan apa yang diperintahkan oleh agama.

Desa merupakan suatu kesatuan hukum, dimana betempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa dan mengadakan pemerintahannya sendiri. Desa terjadi bukan hanya dari suatu tempat kediaman masyarakat saja, namun terjadi dari satu induk desa dan beberapa tempat kediaman. Sebagian dari mana hukum yang tepisah merupakan kesatuan tempat tinggal sendiri, kesatuan mana pedukuhan, ampean, kampung, cantilan, beserta tanah pertanian, tanah peikanan darat, hutan dan tanah belukar (Innayatullah, 1997). Desa sendiri berasal dari bahasa India yaitu swadesi yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah yang merujuk kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma, serta memiliki batas yang jelas.

Lantas bagaimanakah kita melihat adanya variasi budaya pada masyarakat di Desa Lawak, Kabupaten Lamongan. Kemudian bagaimana juga pola kekuasaan yang terjadi sana.

Gambaran Desa

Desa Lawak memiliki sejarah panjang semenjak kerajaan Majapahit. Berada di Kecamatan Ngimbang dengan luas wilayah yang lebih dari 450.000 Ha. Desa ini memiliki enam dusun, yaitu dusun Lawak sebagai pusat pemerintahan. Dusun Kalongan, Klembak, Talunjuwet, Dung Poh dan Duren. Keadaan geografis di Desa Lawak relatif sulit ditempuh. Selain karena topografinya yang relatif naik turun, jalan yang menghubungkan antar dusun juga mengalami rusak parah. Hal ini yang menyebabkan masyarakat disini kurang bisa berkembang  Mayoritas penduduk disini berprofesi sebagai petani.

Varian Budaya

Kebudayaan masyarakat Desa Lawak pada mulanya mempercayai ajaran animisme dan dinamisme. Mereka mengkeramatkan sendhang (sumur) tua yang berada dimasing-masing dusun. Kemudian slametan yang mereka lakukan ditujukan kepada arwah leluhur yang sudah mati maupun penunggu dusun mereka. Namun setelah masuknya Islam disana perlahan-lahan kebiasaan masyarakat di Desa Lawak berubah.

Secara umum jika melihat teori Geertz maka masyarakat di Desa Lawak saat ini bisa digolongkan kedalam varian santri. Mayoritas merupakan golongan santri kolot. Hal ini disebabkan masyarakat disana masih melakukan berbagai jenis slametan mulai dari nyedekah bumi, slametan setelah kematian, slametan menjelang hajatan dan sebagainya. Namun kebiasaan mistis disana bisa dikatakan sudah mulai berkurang. Hal ini disebabkan slametan diadakan di rumah kepala dusun maupun rumah penduduk, tidak lagi dilakukan di sendhang. Selain itu tujuan slametan juga sebagai wujud syukur atas berkah dan anugerah dari Yang Maha Kuasa. Pengaruh Isalm di Desa Lawak dibawa oleh Kyai-kyai yang berafiliasi ke organisasi Nahdatul Ulama (NU). Meskipun begitu varian santri disini bukan hanya dari kalangan NU saja. Sebab ada juga varian santri modern disini, yaitu mereka yang merupakan jemaah dari Muhammadiyah maupun LDII. Mereka sudah tidak lagi menjalankan berbagai macam slametan karena dianggap bertentangan dengan ajaran dan tuntunan Islam. Sehingga golongan ini bisa dimasukkan kedalam varian santri modern. Hanya saja jumlah mereka reatif sedikit dan terbatas hanya ada di Dusun Kalongan dan Dusun Klembak saja.

Selain itu yang termasuk varian priyayi disini adalah Kepala Desa disini. Hal ini disebkan beliau memang memiliki keturunan sebagai Kepala Desa. Selain itu Kepala Dusun Lawak juga bisa digolongkan kedalam varian priyayi sebab beliau juga memiliki keturunan sebagai Kepala Dusun. Selain itu keluarga Kepala Dusun Lawak juga banyak yang menjabat sebagai kepala dusun di dusun lain, maupun sebagai pegawai pemerintahan desa.

Sedangkan varian abangan bisa dikatakan masih ada namun jumlahnya relatif sedikit. Masyarakat di talunjuwet bisa dikatakan masih banayk yang termasuk kedalam varian abangaan. Hal ini disebabkan mereka memang mengaku sebagai umat Islam namun dalam prakteknya mereka tidak menjalankan tuntunan agama. Yang terjadi malah mereka masih meneruskan kebiasaan dan tradsi leluhur mereka. Sementara itu beberapa warga di Dusun Klembak juga masih melakuakn tradisi slametan di sendhang dengan tujuan menghormati leluhur dan penunggu dusun tersebut. Sementara itu, disana juga masih ada dukun atau istilahnya orang pintar. Banyak warga ynag masih suka berobat kesana atau menanyakan hari-hari yang tepat untuk melaksanakan hajatan atau bepergian.

Pola Kekuasaan

Kekuasaan bersumber dari hak milik kebendaan, birokrasi, kemampuan atau keahlian, juga karena pengakuan resmi. Oleh karena hal tersebut maka kekuasaan selalu selalu ada dimanapun baik dalam hubungan sosial maupun organisasi sosial (Soejdono Soekanto, 1997).

Kekuasaan memiliki unsur-unsur yang membangunnya yaitu rasa takut, rasa cinta, kepercayaan dan pemujaan.

Ada beberapa jenis studi kekuasaan, antara lain :

  1. Studi tentang konsep kekuasaan menurut kebudayaan setempat. Menurut konsepsi masyarakat ini, kekuasaan itu apa. Pemahan tersebut uga dapat mengkaitkan dengan perilaku tokoh-tokoh dan peristiwa politik yang nyata. Sehingga konsep ini melihat bentuk-bentuk kekuasaan di setiap daerah berbeda-beda tergantung kepada bagaimana pola budaya, tokoh masyarakt, sejarah di daerah tertentu.
  2. Pendekatan elitis atau reputational approach, yaitu identifikasi secara subjektif individu-individu yang dianggap berkuasa dalam masyarakat.  Pendekatan ini melihat bagaimana penguasa tersebut bisa diterima pada suatu masyarakat tertentu.
  3. Pendekatan melalui analisa peristiwa, atau issue outcome approach. Pendekatan ini dilakukan dengan cara mempelajari proses pengambilan keputusan, bagaimana pengaruh tokoh tertentu didalam perumusan dan pengambilan keputusan.

Didalam suatu masyarakat yang tenang dan stabil umumnya terdapat kekuasaan yang tradisonal yang legal dan kuat. Dengan meluasnya sistem demokrasi pada zaman sekarang maka kekuasaan tradisional diwujudkan dengan kekuasaan yang turun temurun dari orang tua kepada anak-anaknya tampaknya semakin berkurang. Sebaliknya didalam suatu masyarakat yang mengalami perubahan-perubahan yang cepat, kekuasaan kharismatik mendapat kesempatan untuk tampil kemuka. (Sosiologi Pedesaan, hal 222)

Bedanya kekuasaan dan wewenang adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan, sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang terlegitimasi.  Sementara itu kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti apa yang diinginkan olenya. Dalam masyaakat pedesaan, kepemimpinan ini merupakan suatu yang melekat sebagaimana unsur masyarakt lainnya. Kepemimpinan sendiri ada yang lahir karena proses sosial alami, juga oleh sebuah penunjukkan atau pelimpahan.

Kepemimpinan resmi (formal) dilandasi oleh adanya kekuasaan yang resmi serta adanya batasan kekuasaan yang jelas. Di desa, hal ini terlihat dari adanya kepala desa beserta jajaran bawahannya. Sementara kepemimpinan tidak resmi (informal) diwakili oleh tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh. Biasanya di pedesaan kepemimpinan informal memiliki pengaruh yang lebih kuat bila dibandingkan dengan kepemimpinan formal.

Sementara menurut kelahirannya, adanya kepemimpinan sosial dan kepemimpinan genetis. Kepemimpinan sosial terjadi karena sengaja dibuat denagn tujuan mengatur masyarakat. Sementara pemimpin yang lahir karena genetis disebabkan memilii keturunan pemimpin (faktor genetis). Sementara kepemimpinan ekologi yaitu seseorang yang muncul karena memiliki bakat dalam memimpin dan mampu mengembangkannya dengan baik.

Dalam sebuah masyarakat ada sebuah minoritas kecil (elite) yang didukung oleh dan yang melakukan eksploitasi  atas sebagian besar penduduk yang patuh, yang secara pasif menerima peranannya. Kelas atas dibedakan menjadi monopoli kekuasaan dan otoritas., pengelompokkan kekerabatan yang urmat dan prestasi yang dinilai tinggi. Sjoberg menunjukkan fakta, bahwa dalam elite termasuk kaum literati yang mengemban resmi tradisi klasik tertulis yang memberikan pembenaran yang ofistikatif dan terperinci demi eksistensi dan kelangsungan sistem sosial tersebut. (Robert Redfilld, 1982)

Pola Kekuasaan di Desa Lawak

Sebelum tahun 1990, Desa Lawak dipimpin oleh Suparman. Kemudian berganti dipegang oleh Khasan. Sementara itu tahun 2000 kepala desa dipegang oleh Suwito dan tahun 2006, dipimpin oleh Setiaji sampai saat ini. Setiaji merupakan anak dari Suparman. Pada pemilihan tahun 2000 sebenarnya Setiaji sudah mencalonkan diri, hanya saja saat itu bealiau kalah sebab saat itu Setiaji beru mendaftar pada hari terakhir pendaftaran calon Kades. Sehingga aat itu Suwito lah yang dijagokan menjadi Kades. Seiring berjalannya waktu Suwito dianggap kurang memiliki ketegasan dalam memimpin serta kurang cepat dalam permasalahan pembangunan. Sehingga Setiaji lah yang berhasil menag dalam pemilihan tahun 2006.

Sebelum itu Suparman sebaagi mantan Lurah Lawak memang sudah pernah ditanyakan apakah ada anaknya yang akan manggantikan dirinya dalam memimpin Lawak. Namun ketika itu Setiaji masih belum mau menggantikan ayahnya. Tetapi ternyata saat ini Aji lah yang menggantikan kedudukan ayahnya.

Setiaji sendiri bekerja sebagai seorang wirausaha. Beliau memiliki peetrnakan ayam yang dikelolanya bekerja sama dengan perusahaan pakan ayam. Selain itu beliau uga memiliki pabrik pengolah kayu menjadi papan. Nantinya papan tersebut diekspor ke mancanegara gun diolah menjdi barang-barang gerabah seperti piring, sendok, mangkok. Jepang adalah negara utama dalam ekspor tersebut. Bakat wirausaha memang menurun pada keturunan Suparman. Sebab istri Suparman merupakan keturunan etnis cina yang memiliki bakat berdagang. Selain itu anak-anak Suparman yang lain juga banyak yang menjadi pedagang. Namun hanya Setiaji lah yang mewarisi bakatnya menjadi pemimpin. Selain itu istri Setiaji berprofesi sebagai karyawan pada salah satu bank swasta di Jombang.

Kita bisa melihat bahwa pola kepemimpinan formal di Desa Lawak yang bersifat genetis, sebab menurun dalam satu keluarga. Selain itu menurut pendekatan kekuasaan maka kekuasaan di Lawak bersifat elitis sebab Setiaji memiliki reputasi, baik sebagai keturunan Lurah sebelumnya maupun reputasi dikenal sebagai orang kaya di Desa Lawak.

Dalam pelaksanaan pembangunan desa, Setiaji sebenarnya bisa dinilai baik. Pada awal kepemimpinannya beliau berhasil membangun jalan desa. Namun ternyata pembangunan ini secara tidak langsung juga menguntungkan usaha Setiaji semata. Hal ini terlihat bahwa jalan yang dibangun adalah jalan penghubung antara jalan besar milik pemerintah Kabupaten Lamongan melewati dusun Kalongan dan dusun Lawak, serta sedikit di jalan menuju dusun Klembak. Letak peternakan Setiaji berada di dusun Lawak dan pembangunan jalan ini melewati peternakan Setiaji. Sebab peternakan tersebut setiap hari menerima kiriman pakan ternak. Pakan tersebut dikirim menggunakan kendaraan truk dengan muatan sekitar 2 ton. Sebenarnya bukan hanya kendaraan ini saja, namun banyak juga truk lain yang bermuatan pdi hasil panen penduduk yang juga melewati desa Lawak. Padahal kondisi jalan disana terbilang labil, sehingga belum ada satu tahun pembangunan, jalan disana sudah rusak.

Sebenarnya pembangunan jalan disana kurang merata. Sebab jalan di dusun lain masih terbilang rusak dan belum dilakukan pembangunan. Selain itu, puskesmas disana juga rusak dan tidak digunakan. Namun karena dana bantuan yang memang terbatas menyebakna pembangunan tidak bisa dilakukan secara merata. Pembangunan tidak melihat dari mana latar belakang organisasi warga namun lebih kepada pembangunan mana ynag bisa menguntungkannya itulah yang didahulukan.

Penutup

Kondisi geografis desa Lawak menyebabkan kondisi masyarakat disini tidak bisa berkembang. Pola kekuasaan di desa Lawak bisa dikatakan tidak berhubungan dengan latar belakang organisasi pemimpin mereka atau varian budaya mereka. Seperti pola masyarakat tradisional bahwa masyarakat di Lawak cenderung memilih pemimpin dari latar belakang keturunan serta ketokohan yang cenderung mengarah ke arat genetis dan elitis serta dilandasi denagn sikap rasionalitas dimana faktor ekonomi berperan disana. Artinya, mereka melihat keturunan dari pemimpin mereka, serta faktro kekayaan yang dimiliki leh pemimpin mereka.

Namun pembangunan disana kurang maksimal disebabkan pemimpin mereka, Setiaji memiliki pekerjaan sampingan yang tentunya memberikan income pendapatan lebih besar bila dibandingkan dengan pekerjaan sebagai lurah yang hanya mendaapatkan pendapatan berupa sawah. Namun masyarakat desa Lawak memiliki kecenderungan untuk memberikan legitimasi kepada Setiaji disebabkan mereka berpandangan belum ada sosok lain yang mampu mengantikan posisinya sebagai kepala desa. Bahkan banyak yang mempercayai nantinya ketika Setiaji kembali mencalonkan diri sebagai Lurah maka banyak warga yang akan mendukungnya. Sebenarnya kinerja Setiaji bisa dikatakan baik, hanya saja kurang maksimal. Seharusnya dengan legitimasi yang penuh dari masyaraakat Lawak bisa meningkatkan kinerja Setiaji selaku kepala desa di Lawak agar masyarakat Lawak bisa semakin sejahtera.

 

DAFTAR PUSTAKA

Balandier, George. Antropologi Politik. Jakarta : CV. Rajawali, 1986.

Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta : Pustaka Jaya, 1989.

Redfield, Robert. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Jakarta : CV. Rajawali, 1982.

Yuliati, Yayuk dan Mangku Poernomo. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama, 2003.

 

Tugas Mata Kuliah Politik di Desa

Taufik Agung Widodo Politik 2009

FISIP UNAIR 2011

Laporan berdasarkan kuliah lapangan yang dilakukan di Desa Lawak, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten lamongan Jawa Timur

9 – 12 Juni 2011

22 thoughts on “POLITIK DI DESA : Pola Kekuasaan Lurah di Desa Lawak, Kec. Ngimbang, Kab. Lamongan

  1. setiawan says:

    mas atau mbak trimakasih atas kunjunganya ke desa lawak. Mohon maaf jg pelayanan kami kurang berkenan. Dan terima lasih atas saran dan komentarnya

  2. Sari says:

    Klu adiknya emang knp..

  3. sari says:

    klu setiawan itu adeknya trus yg itu tuh apanya pak lur ya???ooo “…”nyaaa ehmmmm ehmmm

  4. 515'471 says:

    adeknya pak lurah kok gk mirip ya di foto?? jngn2 bkn ini??alias adek jelmaan..

  5. Zaenal Arifin says:

    Terimakasih atas apresiasi yg di paparkan..semua berdasar data dan penelitian yg ckp baik dg pendekatan yg baik pula…namun ijinkan sedikit koreksi…mslah muatan kendaraan yg bermuatan pakan ternak..yg diatas ditulis kurang lebih 2ton,ini yg agak jauh…,rata2 kendaraan yg melewati jalan desa itu antara 5 smpai 7 ton…,tp semua itu jg untuk kelancaraan perekonomian desa…,tp tdk hnya kendaraan yg memuat pakan ternak saja,termasuk kendaraan muat matrial pembngunan jga komoditi ekonomi penduduk,sprt padi,jagung,tembakau.dll..semata demi kelancaran perekonomian desa walau dg segala konsekwensi..jalan cpt rusak..tp saya juga salut dng kepemimpinan pak Setiaji…,mudah2an beliau mau meneruskan kepemimpinan untuk periode berikutnya..dengan memperbaiki kelemahan dan kekurangan yg ada..! mohon maaf dan Terimakasih..!

  6. 5i5 471 says:

    tp sm pak kadesnya kan blm??kok bilang mirip? paling ktmne sm ayam2nya aja?EMANG BAIK HATI POW ORNGNYA??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s